Saturday, 30 May 2015

Makalah Siroh Nabawiyah, Siasat Perundingan Kaum Kafir Terhadap Dakwah Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai seorang muslim hendaknya kita mesti mengetahui kepribadian dan sejarah nabi Muhammad SAW baik ketika beliau dalam berdakwah di Mekah dan Madinah hingga beliau diangkat sebagai Rasul. Oleh karena itu kami mencoba untuk mengingatkan kembali akan sejarah dan perjalanan nabi Muhammad SAW untuk selalu kita contoh dan kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bersama bahwa umat Islam pada saat sekarang ini lebih banyak mengenal figur/figur yang sebenarnya tidak pantas untuk di contoh dan ironisnya mereka sama sekali buta akan sejarah dan pri kehidupan Rasulullah SAW.
Oleh karena itu kami mencoba untuk membuka, memaparkan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan mudah-mudahan dengan adanya makalah ini menambah rasa kecintaan kita pada nabi Muhammad SAW. Adapun tujuan penulis menyusun makalah ini supaya pembaca lebih mengetahui tentang kehidupan nabi Muhammad SAW dan proses dakwah beliau serta pembentukan Negara Madinah
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana ringkasan cerita tentang siasat perundingan kaum kafir qurays terhadap dakwah nabi Muhammad SAW?
2.      Pelajaran apa saja yang dapat kita ambil dari cerita tersebut?




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Siasat Perundingan Kaum Kafir Qurays
Di dalam riwayat Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq disebutkan bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah seorang tokoh cendekiawan di antara kaumnya berkata di majelis pertemuan Quraisy,”Wahai kaum Quraisy, ijinkanlah aku bertemu dan berdialog dengan Muhammad, dan menawarkannya beberapa tawaran kepadanya, barangkali dia bersedia menerima salah satunya. Kita berikan kepadanya apa yang disukainya, dan dia berhenti menyusahkan kita.” Kaum Quraisy menjawab: “Kami setuju, wahai Abu Al Walid. Pergi dan berdialoglah kepada Muhammad.”
Kemudian ‘Utbah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu duduk di hadapan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata, “Wahai putra saudaraku, Anda adalah seorang dari lingkungan kami, dan andapun telah mengetahui kedudukan silsilah kami (yang dipandang terhormat oleh semua orang Arab).
Namun ternyata Anda telah membawa suatu persoalan yang amat gawat kepada kaum kerabat anda, dan Anda telah memecah-belah kerukunan dan persatuan mereka. Sekarang  dengarkanlah baik-baik, saya hendak menawarkan kepada Anda beberapa hal yang mungkin dapat anda terima salah satu di antaranya.” Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Katakanlah, hai Abu Al Walid, apa yang hendak kamu tawarkan.” ‘Utbah bin Rabi’ah berkata: “Wahai putra saudaraku, jika dengan dakwah yang Anda lakukan itu Anda ingin mendapatkan harta kekayaan, maka akan kami kumpulkan harta kekayaan yang ada pada kami untuk anda, sehingga Anda menjadi orang yang terkaya di kalangan kami. Jika Anda menginginkan kehormatan dan kemuliaan, Anda akan kami angkat sebagai pemimpin, dan kami tidak akan memutuskan persoalan apa pun tanpa persetujuan anda. Jika Anda ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan Anda sebagai raja kami. Jika Anda tidak sanggup menangkal jin yang merasuk ke dalam jiwa anda, kami bersedia mencari tabib yang sanggup menyembuhkan anda, dan untuk itu kami tidak akan menghitunghitung berapa biaya yang diperlukan sampai Anda sembuh.”
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada ‘Utbah, “Sudah selesaikan Anda wahai Abu Al Walid?”
Jawab ‘Utbah, “Sudah.”
Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Sekarang dengarkanlah dariku.”
Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca:
“Haa Miim. Diturunkan Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang telah dijelaskan ayat-ayatnya, Al Quran dalam bahasa Arab, bagi kaum yang hendak mengetahuinya. Kitab yang membawakan berita gembira dan yang membawakan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling dan mereka tidak mau mendengarkannya. Mereka (bahkan) berkata: “Hati kami tertutup bagi apa yang kamu serukan kepada kami, dan telinga kami pun tersumbat rapat . Antara kami dan kamu terdapat dinding pemisah. Karenanya, silahkan kamu berbuat (menurut kemauanmu sendiri) dan kami pun berbuat (menurut kemauan kami sendiri).” Katakanlah (Hai Muhammad), “Bahwasannya aku adalah seorang manusia (juga) seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Satu, karena itu hendaklah kamu tetap pada jalan lurus menuju kepada-Nya dan celakalah orang-orang yang mempersekutukan-Nya……: “
Ketika ‘Utbah mendengar bacaan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai ayat:
“Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Kalian telah kuperingatakan (mengenai datangnya) peitr (adzab) seperti petir yang menghancurkan kaum ‘Aad dan Tsamud (dahulu) (QS Fushshilat: 13)
‘Utbah menutup mulut Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tangannya memohon supaya berhenti membacanya karena takut ancaman yang terkandung di dalam ayat tersebut.
Kemudian ‘Utbah kembali kepada kaummnya yang sudah menantinya. Mereka bertanya, “Bagaimana hasilnya wahai Abu Al Walid?” ‘Utbah menjawab: “Aku mendengar suatu perkataan yang belum pernah aku dengar sama sekali. Demi Allah, perkataan itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan pula mantera dukun. Wahai kaum Quraisy, taatilah aku, dan biarkan Muhammad dengan urusannya. Biarkanlah dia! Demi Allah, sunguh perkataan yang aku dengar darinya itu akan menjadi berita yang menggemparkan. Jika apa yang dikemukakan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam terjadi pada bangsa Arab, maka hanya dia yang bisa membebaskan kamu. Dan jika Muhammad berkuasa atas bangsa Arab, maka kekuasaannya adalah kekuasaanmu, kemuliaannya adalah kemuliaan kamu juga.”
Kaum Quraisy menjawab, “Demi Allah, Muhammad telah mensihirmu, wahai Abu Al Walid, dengan perkataanya.”
‘Utbah berkata,”Demikianlah pendapatku tentang Muhammad. Kamu bebas untuk berbuat sesukamu.”
Thabari dan Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa beberapa orang musyrik, termasuk Al  Walid bin Mughira dan Al Ash bin Wa’il, datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menawarkan harta kekayaan dan gadis tercantik kepadanya, dengan syarat beliau bersedia meninggalkan kecaman terhadap tuhan-tuhan mereka. Ketika Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menolak tawaran tersebut, mereka menawarkan, “Bagaimana jika Anda menyembah tuhan-tuhan kami sehari, dan kami menyambah tuhanmu sehari (bergantian)?”
Tetapi tawaran ini juga ditolak oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan berkenaan dengan hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan fimarn-Nya:
“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dankamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak parnah (juga) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamau, dan untukku agamaku.’” (QS Al Kafirun 1-6)
Para pembesar Quraisy belum berputus asa membujuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Secara beramai-ramai mereka mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menawarkan kembali apa yang pernah ditawarkan oleh ‘Utbah kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka menawarkan kekuasaan, harta kekayaan dan pengobatan.
Kepada mereka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Aku tidak memerlukan semua yang kamu tawarkan. Aku tidak berdakwah karena menginginkan harta kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan. Tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabb-ku dan aku sampaikan nasehat kepadamu. Jika kamu menerima dakwahku, maka kebahagianlah bagimu di dunia dan di akherat. Jika kamu menolak ajakanku, maka aku bersabar mengikuti perintah Allah sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kamu.”
Selanjutnya mereka berkata kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam,”Jika Anda tidak bersedia menerima tawaran kami, maka sesungguhnya Anda telah mengetahui bahwa tidak ada orang yang lebih kecil negerinya, lebih gersang tanahnya dan lebih keras kehidupannya selain dari pada kami.
Karena itu mintakanlah untuk kami kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menjauhkan gunung-gunung yang menghimpit ini dari negeri kami, mengalirkan sungai-sungai untuk kami sebagaimana sungai-sungai Syam dan Iraq, dan membangkitkan bapak-bapak kami yang telah mati, terutama Qushayyi bin Kilab, karena dia seorang tokoh yang terkenal jujur, sehingga kami dapat bertanya kepadanya tentang apa yang Anda katakan. Mintalah buat Anda kebun, istana, tambang emas dan perak yang dapat memenuhi apa yang selama ini Anda buru. Jika Anda telah melakukan apa yang kami minta, maka kami baru akan membenarkan Anda. Kami akan akan tahu kedudukan Anda di sisi Allah, dan akan mempercayai bahwa Dia mengutusmu sebagai Rasul sebagaimana Anda katakan.”
Jawab Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan meminta hal itu kepada Allah.”
Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya mereka berkata kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam,”Kami dengar bahwa Anda mempelajari semua itu dari seorang yang tinggal di Yamamah bernama Ar Rahman. Demi Allah kami tidak percaya kepada ar-Rahman. Sesungguhnya kami telah berusaha sepenuhnya kepada anda, wahai Muhammad. Demi Allah, kami tidak akan membiarkan Anda mengalahkan kami.” Kemudian mereka bangkit dan meninggalkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
B.     Beberapa Ibrah
Di dalam fragmen Sirah Nabawiyah yang kami sebutkan di atas terdapat tiga pelajaran penting.
Pertama, menjelaskan kepada kita tentang kebersihan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dari segala bentuk kepentingan dan tujuan pribadi yang biasanya menjadi motivasi para penyeru ideologi baru dan penganjur pembaruan dan revolusi.
Apakah melalui dakwahnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bermaksud memburu kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan? Apakah dakwahnya hanya merupakan manifestasi dari segala kebusukan yang terimpan di dadanya?
Semu tuduhan ini merupakan senjata yang biasa digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dakwah Islam. Tetapi betapa agung dan mulianya rahasia kehidupannya yang telah dipersiapkan Rabb semesta alam kepada Rasul-nya. Allah telah mengisi kehidupan Rasul-Nya dengan sikap-sikap dan peristiwa-peristiwa yang menghancurkan semua tuduhan busuk yang dilontarkan para musuh Islam,d an membuat mereka bingung mencari cara yang harus ditempuh untuk melancarkan serangan pemikiran.
Adalah termasuk kebijaksanaan Allah bahwa kaum musyrik Quraisy telah melakukan beberapa kali perundingan (penawaran) kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, setelah mereka membayangkan dalam pikiran mereka sendiri tuduhan-tuduhan tersebut, kendatipun mereka sangat mengetahui tabiat dan tujuan dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi demikianlah hikmah Ilahiyah telah menghendakinya, tiap tuduhan palsu dan ghazwul fikri (serangan pemikiran) yang akan dilancarkan oleh mush-musuh Islam.
Para orientalis seperi Kramer dan Van Vloten, setelah lama memeras otak, tetapi tidak juga berhasil menemukan peluang untuk menodai kesucian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam akhirnya dengan mengesampingkan kebenaran mereka menuduh bahwa Muhammad berdakwah semata-mata memburu kekuasaan dan kejayaan.
Tetapi jauh sebelum para orientalis ini datnag, Allah telah memperlihatkan bagaimana ‘Utbah bin Rabi’ah atas nama kaum Quraisy menawarkan emua yang dituduhkan itu kehadapan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tawaran itu ditolak sama sekali oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahkan setelah itu beliau tetap tabah menghadapi penyiksaan dan penganiayaan kaum Quraisy.
Seandainya dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam semata-mata mengejar kekuasaan dan harta kekayaan, niscaya beliau tidak akan bersedia menanggung penyiksaan dan tidak akan menolak tawaran mereka seraya mengatakan:
“Aku tidak berdakwah karena menginginkan harta kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan. Tetapi Allah telahmengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabb-ku dan aku sampaikan nasehat kepadamu. Jika kamu menerima dakwahkuk, maka kebahagiaanlah bagimu di dunia dan di akherat. Jika kamu menolak ajakanku, maka aku bersabar mengikuti perintah Allah sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kamu.”
Dalam pada itu, kehiduapn sehari-hari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga membenarkan ucapannyaini. Beliau tidak menolak kekuasaan, dan harta kekayaan hanya dengan lisannya saja, bahkan kehidupan sehari-harinya pun membuktikan hal tersebut. Beliau hidup dengan gaya kehidupan yang sangat sederhana, tidak pernah lebih dari kehidupan kaum fakir dan miskin. Berkata Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu dalam sebuah riwayat Bukhari.:
“Sampai Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal belum pernah ada di dalam rak makananku sesuatu yang bisa dimakan manusia kecuali secuil roti, dan itupun aku mohon untuk beberapa hari.”
Berkata Anas Radhiyallahu ‘Anhu dalam sebuah riwayaat Bukhari:
“Sampai meninggal Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, belum pernah maan makanan di atas piring sampai meninggal beliau belum pernah makan roti yang berkualitas baik.”
Kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sungguh sangat sederhana, baik dalam berpakaian ataupun menyangkut perabot rumahnya. Beliau tidur hanya di atas tikar anyaman, bahkan belum pernah sama sekali tidur di atas hamparan yang lembut dan empuk. Hingga istri-istrinya, pada suatu hari mendatangi beliau mengadukan ihwal kehidupan yang memprihatikan. Mereka menuntut perbaikan keadaan, paling tidak sedikit di bawah kehidupan para istri sahabatnya. Mendengar tuntutan ini, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam marah dan tidak memberikan jawaban pun hingga kemudian Allah menurunkan firman-Nya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu sekalian menginginkan kehiduan dunia dan perhiasan, maka marilah supaya kuberikan kepadamu bekal, dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghandaki (keridhahan) Allah dan Rasul-Nya dan (kesenangan) di negeri akherat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yng berbuat baik di antaramu pahala yang besar.’” (QS Al  Ahzab: 28-29)
Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membacakan kedua ayat ini kepad para istrinya dan memberikan pilihan kepada mereka: Hidup bersamanya dengan kondisi seadanya atau tetap menuntut perbaikan kehidupan dengan diceraikan secara baik. Tetapi mereka kembali memilih hidup bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kondisi seadanya.
Apakah setelah ini masih ada akal-akal siapa pun yang meragukan keikhlasan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam? Masih adakah setelah penjelasanini orang yang mencoba menuduh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berdakwah karena ambisi kekuasaan dan harta kekayaan?
Kedua, penjelasan tentang makna hikmah (kebijaksanaan) yang menjadi prinsip dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Apakah hikmah berarti bahwa dalam berdakwah Anda boleh berbuat kebijaksanaan sendiri sesuka hari anda, betapapun cara dan bentuk „kebijaksanaan” tersebut?”
Apakah sariat Islam memberikan kebebasan kepada Anda untuk menempuh cara atau sarana apa saja selama tujuan Anda benar?
Tidak, sesungguhnya syariat Islam telah menentukan sarana kepada kita sebgaimana telah menentukan tuuan. Anda tidak boleh mencapai tujuan yang disyariatkan Allah kecuali dengan jalan tertentu yang telah dijadikan Allah sebagai sarana untuk mencapainya. Semua kebijaksanaan dan policy dakwah Islam harus dirumuskan sesuai dengan batas-batas sarana yang telah disyariatkan.
Apa yang telah kami sebutkan di muka merupakan dalil bagi apa yang kami tegaskan ini.
Tidakkah cukup kebijaksanaan seandainya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima tawaran kaum Quraisy untuk menjadi penguasa atau raja, sehingga dengan kekuasaan itu beliau bisa memanfaatkan sebagai sarana dakwah Islam? Apalagi kekuasaan dan pemerintahan itu memiliki pengaruh besar di dalam jiwa manusia. perhatikanlah bagaimana para penganjur ideologi yang baru saja berhasil merebut kekuasaan, memanfaatkan kekuasaan itu untuk memaksakan pemikiran dan ideologi mereka kepada masyarakat.
Tetapi, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mau menggunakan cara-cara seperti ini di dalam dakwahnya, karena bertentangan dengan prinsip-prinsip dakwah Islam itu sendiri.
Jika cara-cara seperti ini dibenarkan dan dianggap sebgai “kebijaksanaan” yang syar’i, niscaya tidak akan ada bedanya antara orang yang jujur dan orang yang berdusta, antara dakwah-dakwah Islam dan dakwah-dakwah kebatilan.
Kemuliaan dan kejujuran, baik menyangkut sarana ataupun tujuan, adalah landasan utama falsafah agma ini (Islam). Tujuan harus sepenuhnya di dasarkan pada kejujuran.
Kemuliaan dan kebenaran. Demikian pula sarana, harus didasarkan kepada prinsip kejujuran, kebenaran, dan kemuliaan.
Dari sinilah maka para da’i Islam dituntut untuk lebih banyak berkorban dan berjihad, karena mereka tidak dibenarkan menempuh jalan dansarana sekehendak hatinya. Mereka harus mengambil jalan dan sarana yang sudah disyari’atkan, betapapun resikonya yang harus dihadapi.
Adalah keliru jika Anda beranggapan bahwa prinsip hikmah (kebijaksanaan) dalam dakwah Islam itu disyariatkan untuk mempermudah tugas seorang da’i atau utuk menghindari penderitaan dan kesulitan. Rahasia disyariatkannya prinsip hikmah dalam dakwah ialah untuk mengambil jalan dan sarana ang paling efektif agar bisa diterima akal dan pikiran manusia, artinya apabila perjuangan dakwah menghadapi beranekaragam rintangan dan hambatan, maka langkah yang bijaksana bagi para da’i dalam hal ini adlah melakukan persiapan utuk berjihad dan berkorban dengan jiwa dan harta. Hikmah ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Di sinilah perbedaan antara hikmah dan tipu daya, antara hikmah dan menyerah. Anda tentu ingat dan mengethaui, ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, merasa optimis melihat tanda-tanda kesediaan para tokoh Quraisy untuk memahami Islam, maka dengan perasaan gembira dan perhatian sepenuhnya beliau menjelaskan hakekat Islam kepada mereka, sehingga ketika seorang sahabatnya yang buta Abdullah Ibnu Ummi Maktum lewat, kemudian duduk ikut mendengarkan di samping mereka dan bertanya kepadanya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membuang muka darinya, karena beliau tidak ingin kehilangan kesempatan baik tersebut, di samping bahwa Ibnu Ummi Maktum akan bisa dijawab pada lain kesempatan.
Tetapi kebijaksanaan Rasululah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ini mendapat teguran dari Allah di dalam surat ‘Abasa, kendatipun tujuannya sangat mulia. Karena cara tersebut mengandung sikap yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam, yaitu mengabaikan dan menyakiti hati Abdullah Ibnu Ummi Maktum karena ingin menarik hati kaum musyrik.
Tegasnya, tidak seorangpun yang dibenarkan untuk mengubah, melanggar atau meremehkan hukum-hukum dan prinsip-prinsip Islam, dengan dalih kebijaksanaan, dalam berdakwah. Sebab, suatu kebijaksanaan tidak bisa disebut bijaksana, jika tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan syariat dan prinsip-prinsipnya.
Ketiga, sikap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadp berbagai tawaran yang diajukan kaum Quraisy kepadanya tersebut mendapatkan dukungan dari Allah. Berkenaan dengan hal ini Allah telah menurunkan firman-Nya:
“Dan mereka berkata,”Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu, hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah-celah kebun yang deras airnya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan, atau kamu datangkan Allah dan Malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah Kitab yang kami baca.” Katakanlah: “Maha Suci Rabb-ku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul.” (QS Al Isra’: 90-93)
Allah tidak mengabulkan permintaan mereka bukan karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak diberi mukjizat selain dari Al Quran, sebagaimana anggapan sebagian orang. Tetapi karena Allah mengetahui bahwa mereka tidak menuntut hal itu melainkan karena kekafiran, keangkuhan dan penghinaan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini dapat kita perhatikan melalui cara-cara dan bentuk-bentuk tuntutan yang mereka ajukan. Seandainya mereka jujur dan serius ingin meyakini kebenaran Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, niscaya Allah akan mengabulkan permintaan mereka. Tetapi sikap kaum Quraisy ini sesuai dengan apa yang ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya:
“Dan jika seandaiyna Kami mebukakan kepada mereka slah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata,”Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahwa kami adalah orang-orang yang kena sihir.” (QS Al Hijr:14-15)

Dengan demikian, tahulah Anda bahwa hal ini tidak bertntangan dengan pemuliaan Allah kepada Nabi-Nya melalui beraneka macam mukjizat.

No comments:

Post a Comment