BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebagai seorang
muslim hendaknya kita mesti mengetahui kepribadian dan sejarah nabi Muhammad
SAW baik ketika beliau dalam berdakwah di Mekah dan Madinah hingga beliau
diangkat sebagai Rasul. Oleh karena itu kami mencoba untuk mengingatkan kembali
akan sejarah dan perjalanan nabi Muhammad SAW untuk selalu kita contoh dan kita
teladani dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bersama bahwa umat
Islam pada saat sekarang ini lebih banyak mengenal figur/figur yang sebenarnya
tidak pantas untuk di contoh dan ironisnya mereka sama sekali buta akan sejarah
dan pri kehidupan Rasulullah SAW.
Oleh karena itu
kami mencoba untuk membuka, memaparkan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan
mudah-mudahan dengan adanya makalah ini menambah rasa kecintaan kita pada nabi
Muhammad SAW. Adapun tujuan penulis menyusun makalah ini supaya pembaca lebih
mengetahui tentang kehidupan nabi Muhammad SAW dan proses dakwah beliau serta
pembentukan Negara Madinah
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
ringkasan cerita tentang siasat perundingan kaum kafir qurays terhadap dakwah
nabi Muhammad SAW?
2.
Pelajaran
apa saja yang dapat kita ambil dari cerita tersebut?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Siasat Perundingan Kaum Kafir Qurays
Di dalam
riwayat Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq disebutkan bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah seorang
tokoh cendekiawan di antara kaumnya berkata di majelis pertemuan Quraisy,”Wahai
kaum Quraisy, ijinkanlah aku bertemu dan berdialog dengan Muhammad, dan
menawarkannya beberapa tawaran kepadanya, barangkali dia bersedia menerima
salah satunya. Kita berikan kepadanya apa yang disukainya, dan dia berhenti
menyusahkan kita.” Kaum Quraisy menjawab: “Kami setuju, wahai Abu Al Walid.
Pergi dan berdialoglah kepada Muhammad.”
Kemudian ‘Utbah
datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu duduk di hadapan
Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata, “Wahai putra saudaraku, Anda
adalah seorang dari lingkungan kami, dan andapun telah mengetahui kedudukan
silsilah kami (yang dipandang terhormat oleh semua orang Arab).
Namun ternyata
Anda telah membawa suatu persoalan yang amat gawat kepada kaum kerabat anda,
dan Anda telah memecah-belah kerukunan dan persatuan mereka. Sekarang dengarkanlah baik-baik, saya hendak
menawarkan kepada Anda beberapa hal yang mungkin dapat anda terima salah satu
di antaranya.” Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Katakanlah, hai Abu
Al Walid, apa yang hendak kamu tawarkan.” ‘Utbah bin Rabi’ah berkata: “Wahai
putra saudaraku, jika dengan dakwah yang Anda lakukan itu Anda ingin
mendapatkan harta kekayaan, maka akan kami kumpulkan harta kekayaan yang ada
pada kami untuk anda, sehingga Anda menjadi orang yang terkaya di kalangan
kami. Jika Anda menginginkan kehormatan dan kemuliaan, Anda akan kami angkat
sebagai pemimpin, dan kami tidak akan memutuskan persoalan apa pun tanpa
persetujuan anda. Jika Anda ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan Anda
sebagai raja kami. Jika Anda tidak sanggup menangkal jin yang merasuk ke dalam
jiwa anda, kami bersedia mencari tabib yang sanggup menyembuhkan anda, dan
untuk itu kami tidak akan menghitunghitung berapa biaya yang diperlukan sampai
Anda sembuh.”
Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada ‘Utbah, “Sudah selesaikan Anda
wahai Abu Al Walid?”
Jawab ‘Utbah,
“Sudah.”
Nabi Shalallahu
‘Alaihi wa Sallam berkata, “Sekarang dengarkanlah dariku.”
Kemudian Nabi
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca:
“Haa Miim.
Diturunkan Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang telah
dijelaskan ayat-ayatnya, Al Quran dalam bahasa Arab, bagi kaum yang hendak
mengetahuinya. Kitab yang membawakan berita gembira dan yang membawakan
peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling dan mereka tidak mau
mendengarkannya. Mereka (bahkan) berkata: “Hati kami tertutup bagi apa yang
kamu serukan kepada kami, dan telinga kami pun tersumbat rapat . Antara kami
dan kamu terdapat dinding pemisah. Karenanya, silahkan kamu berbuat (menurut
kemauanmu sendiri) dan kami pun berbuat (menurut kemauan kami sendiri).”
Katakanlah (Hai Muhammad), “Bahwasannya aku adalah seorang manusia (juga)
seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Satu,
karena itu hendaklah kamu tetap pada jalan lurus menuju kepada-Nya dan
celakalah orang-orang yang mempersekutukan-Nya……: “
Ketika ‘Utbah
mendengar bacaan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai ayat:
“Jika mereka
berpaling maka katakanlah, “Kalian telah kuperingatakan (mengenai datangnya)
peitr (adzab) seperti petir yang menghancurkan kaum ‘Aad dan Tsamud (dahulu)
(QS Fushshilat: 13)
‘Utbah menutup
mulut Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tangannya memohon supaya
berhenti membacanya karena takut ancaman yang terkandung di dalam ayat
tersebut.
Kemudian ‘Utbah
kembali kepada kaummnya yang sudah menantinya. Mereka bertanya, “Bagaimana
hasilnya wahai Abu Al Walid?” ‘Utbah menjawab: “Aku mendengar suatu perkataan
yang belum pernah aku dengar sama sekali. Demi Allah, perkataan itu bukan
syair, bukan sihir, dan bukan pula mantera dukun. Wahai kaum Quraisy, taatilah
aku, dan biarkan Muhammad dengan urusannya. Biarkanlah dia! Demi Allah, sunguh
perkataan yang aku dengar darinya itu akan menjadi berita yang menggemparkan.
Jika apa yang dikemukakan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam terjadi pada
bangsa Arab, maka hanya dia yang bisa membebaskan kamu. Dan jika Muhammad
berkuasa atas bangsa Arab, maka kekuasaannya adalah kekuasaanmu, kemuliaannya
adalah kemuliaan kamu juga.”
Kaum Quraisy
menjawab, “Demi Allah, Muhammad telah mensihirmu, wahai Abu Al Walid, dengan
perkataanya.”
‘Utbah
berkata,”Demikianlah pendapatku tentang Muhammad. Kamu bebas untuk berbuat
sesukamu.”
Thabari dan
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa beberapa orang musyrik, termasuk Al Walid bin Mughira dan Al Ash bin Wa’il,
datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menawarkan harta
kekayaan dan gadis tercantik kepadanya, dengan syarat beliau bersedia
meninggalkan kecaman terhadap tuhan-tuhan mereka. Ketika Nabi Shalallahu
‘Alaihi wa Sallam menolak tawaran tersebut, mereka menawarkan, “Bagaimana jika
Anda menyembah tuhan-tuhan kami sehari, dan kami menyambah tuhanmu sehari
(bergantian)?”
Tetapi tawaran
ini juga ditolak oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan berkenaan dengan
hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan fimarn-Nya:
“Katakanlah,
‘Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dankamu
bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah
apa yang kamu sembah, dan kamu tidak parnah (juga) menjadi penyembah Tuhan yang
aku sembah. Untukmu agamau, dan untukku agamaku.’” (QS Al Kafirun 1-6)
Para pembesar
Quraisy belum berputus asa membujuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Secara
beramai-ramai mereka mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan
menawarkan kembali apa yang pernah ditawarkan oleh ‘Utbah kepada Nabi
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka menawarkan kekuasaan, harta kekayaan dan
pengobatan.
Kepada mereka
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Aku tidak memerlukan semua
yang kamu tawarkan. Aku tidak berdakwah karena menginginkan harta kekayaan,
kehormatan, atau kekuasaan. Tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia
menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar
gembira dan peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabb-ku dan aku
sampaikan nasehat kepadamu. Jika kamu menerima dakwahku, maka kebahagianlah
bagimu di dunia dan di akherat. Jika kamu menolak ajakanku, maka aku bersabar
mengikuti perintah Allah sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan
kamu.”
Selanjutnya
mereka berkata kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam,”Jika Anda tidak
bersedia menerima tawaran kami, maka sesungguhnya Anda telah mengetahui bahwa
tidak ada orang yang lebih kecil negerinya, lebih gersang tanahnya dan lebih
keras kehidupannya selain dari pada kami.
Karena itu
mintakanlah untuk kami kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menjauhkan
gunung-gunung yang menghimpit ini dari negeri kami, mengalirkan sungai-sungai
untuk kami sebagaimana sungai-sungai Syam dan Iraq, dan membangkitkan
bapak-bapak kami yang telah mati, terutama Qushayyi bin Kilab, karena dia
seorang tokoh yang terkenal jujur, sehingga kami dapat bertanya kepadanya
tentang apa yang Anda katakan. Mintalah buat Anda kebun, istana, tambang emas
dan perak yang dapat memenuhi apa yang selama ini Anda buru. Jika Anda telah
melakukan apa yang kami minta, maka kami baru akan membenarkan Anda. Kami akan
akan tahu kedudukan Anda di sisi Allah, dan akan mempercayai bahwa Dia
mengutusmu sebagai Rasul sebagaimana Anda katakan.”
Jawab Nabi
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan
meminta hal itu kepada Allah.”
Setelah
perdebatan yang panjang, akhirnya mereka berkata kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi
wa Sallam,”Kami dengar bahwa Anda mempelajari semua itu dari seorang yang
tinggal di Yamamah bernama Ar Rahman. Demi Allah kami tidak percaya kepada
ar-Rahman. Sesungguhnya kami telah berusaha sepenuhnya kepada anda, wahai
Muhammad. Demi Allah, kami tidak akan membiarkan Anda mengalahkan kami.”
Kemudian mereka bangkit dan meninggalkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
B.
Beberapa Ibrah
Di dalam
fragmen Sirah Nabawiyah yang kami sebutkan di atas terdapat tiga pelajaran
penting.
Pertama, menjelaskan
kepada kita tentang kebersihan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dari
segala bentuk kepentingan dan tujuan pribadi yang biasanya menjadi motivasi
para penyeru ideologi baru dan penganjur pembaruan dan revolusi.
Apakah melalui dakwahnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam
bermaksud memburu kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan? Apakah dakwahnya hanya
merupakan manifestasi dari segala kebusukan yang terimpan di dadanya?
Semu tuduhan ini merupakan senjata yang biasa digunakan oleh
musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dakwah Islam. Tetapi betapa agung dan
mulianya rahasia kehidupannya yang telah dipersiapkan Rabb semesta alam kepada
Rasul-nya. Allah telah mengisi kehidupan Rasul-Nya dengan sikap-sikap dan
peristiwa-peristiwa yang menghancurkan semua tuduhan busuk yang dilontarkan
para musuh Islam,d an membuat mereka bingung mencari cara yang harus ditempuh
untuk melancarkan serangan pemikiran.
Adalah termasuk kebijaksanaan Allah bahwa kaum musyrik Quraisy
telah melakukan beberapa kali perundingan (penawaran) kepada Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, setelah mereka membayangkan dalam pikiran mereka
sendiri tuduhan-tuduhan tersebut, kendatipun mereka sangat mengetahui tabiat
dan tujuan dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi demikianlah
hikmah Ilahiyah telah menghendakinya, tiap tuduhan palsu dan ghazwul fikri
(serangan pemikiran) yang akan dilancarkan oleh mush-musuh Islam.
Para orientalis seperi Kramer dan Van Vloten, setelah lama memeras
otak, tetapi tidak juga berhasil menemukan peluang untuk menodai kesucian
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam akhirnya dengan mengesampingkan
kebenaran mereka menuduh bahwa Muhammad berdakwah semata-mata memburu kekuasaan
dan kejayaan.
Tetapi jauh sebelum para orientalis ini datnag, Allah telah
memperlihatkan bagaimana ‘Utbah bin Rabi’ah atas nama kaum Quraisy menawarkan
emua yang dituduhkan itu kehadapan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tawaran
itu ditolak sama sekali oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahkan
setelah itu beliau tetap tabah menghadapi penyiksaan dan penganiayaan kaum
Quraisy.
Seandainya dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam
semata-mata mengejar kekuasaan dan harta kekayaan, niscaya beliau tidak akan
bersedia menanggung penyiksaan dan tidak akan menolak tawaran mereka seraya
mengatakan:
“Aku tidak berdakwah karena menginginkan harta kekayaan,
kehormatan, atau kekuasaan. Tetapi Allah telahmengutusku sebagai Rasul. Dia
menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar
gembira dan pemberi peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabb-ku dan aku
sampaikan nasehat kepadamu. Jika kamu menerima dakwahkuk, maka kebahagiaanlah
bagimu di dunia dan di akherat. Jika kamu menolak ajakanku, maka aku bersabar
mengikuti perintah Allah sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan
kamu.”
Dalam pada itu, kehiduapn sehari-hari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
wa Sallam juga membenarkan ucapannyaini. Beliau tidak menolak kekuasaan, dan
harta kekayaan hanya dengan lisannya saja, bahkan kehidupan sehari-harinya pun
membuktikan hal tersebut. Beliau hidup dengan gaya kehidupan yang sangat
sederhana, tidak pernah lebih dari kehidupan kaum fakir dan miskin. Berkata Aisyah
Radhiyallahu ‘Anhu dalam sebuah riwayat Bukhari.:
“Sampai Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal belum pernah
ada di dalam rak makananku sesuatu yang bisa dimakan manusia kecuali secuil
roti, dan itupun aku mohon untuk beberapa hari.”
Berkata Anas Radhiyallahu ‘Anhu dalam sebuah riwayaat Bukhari:
“Sampai meninggal Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, belum pernah
maan makanan di atas piring sampai meninggal beliau belum pernah makan roti
yang berkualitas baik.”
Kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sungguh sangat
sederhana, baik dalam berpakaian ataupun menyangkut perabot rumahnya. Beliau
tidur hanya di atas tikar anyaman, bahkan belum pernah sama sekali tidur di
atas hamparan yang lembut dan empuk. Hingga istri-istrinya, pada suatu hari
mendatangi beliau mengadukan ihwal kehidupan yang memprihatikan. Mereka
menuntut perbaikan keadaan, paling tidak sedikit di bawah kehidupan para istri
sahabatnya. Mendengar tuntutan ini, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam
marah dan tidak memberikan jawaban pun hingga kemudian Allah menurunkan
firman-Nya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu sekalian
menginginkan kehiduan dunia dan perhiasan, maka marilah supaya kuberikan
kepadamu bekal, dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu
sekalian menghandaki (keridhahan) Allah dan Rasul-Nya dan (kesenangan) di
negeri akherat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yng berbuat baik
di antaramu pahala yang besar.’” (QS Al
Ahzab: 28-29)
Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membacakan kedua
ayat ini kepad para istrinya dan memberikan pilihan kepada mereka: Hidup
bersamanya dengan kondisi seadanya atau tetap menuntut perbaikan kehidupan
dengan diceraikan secara baik. Tetapi mereka kembali memilih hidup bersama Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kondisi seadanya.
Apakah setelah ini masih ada akal-akal siapa pun yang meragukan
keikhlasan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam? Masih adakah setelah
penjelasanini orang yang mencoba menuduh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa
Sallam berdakwah karena ambisi kekuasaan dan harta kekayaan?
Kedua, penjelasan
tentang makna hikmah (kebijaksanaan) yang menjadi prinsip dakwah Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Apakah hikmah berarti bahwa dalam berdakwah Anda boleh berbuat
kebijaksanaan sendiri sesuka hari anda, betapapun cara dan bentuk
„kebijaksanaan” tersebut?”
Apakah sariat Islam memberikan kebebasan kepada Anda untuk menempuh
cara atau sarana apa saja selama tujuan Anda benar?
Tidak, sesungguhnya syariat Islam telah menentukan sarana kepada
kita sebgaimana telah menentukan tuuan. Anda tidak boleh mencapai tujuan yang
disyariatkan Allah kecuali dengan jalan tertentu yang telah dijadikan Allah
sebagai sarana untuk mencapainya. Semua kebijaksanaan dan policy dakwah Islam
harus dirumuskan sesuai dengan batas-batas sarana yang telah disyariatkan.
Apa yang telah kami sebutkan di muka merupakan dalil bagi apa yang
kami tegaskan ini.
Tidakkah cukup kebijaksanaan seandainya Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi wa Sallam menerima tawaran kaum Quraisy untuk menjadi penguasa atau
raja, sehingga dengan kekuasaan itu beliau bisa memanfaatkan sebagai sarana
dakwah Islam? Apalagi kekuasaan dan pemerintahan itu memiliki pengaruh besar di
dalam jiwa manusia. perhatikanlah bagaimana para penganjur ideologi yang baru
saja berhasil merebut kekuasaan, memanfaatkan kekuasaan itu untuk memaksakan
pemikiran dan ideologi mereka kepada masyarakat.
Tetapi, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mau menggunakan
cara-cara seperti ini di dalam dakwahnya, karena bertentangan dengan
prinsip-prinsip dakwah Islam itu sendiri.
Jika cara-cara seperti ini dibenarkan dan dianggap sebgai
“kebijaksanaan” yang syar’i, niscaya tidak akan ada bedanya antara orang yang
jujur dan orang yang berdusta, antara dakwah-dakwah Islam dan dakwah-dakwah
kebatilan.
Kemuliaan dan kejujuran, baik menyangkut sarana ataupun tujuan,
adalah landasan utama falsafah agma ini (Islam). Tujuan harus sepenuhnya di
dasarkan pada kejujuran.
Kemuliaan dan kebenaran. Demikian pula sarana, harus didasarkan
kepada prinsip kejujuran, kebenaran, dan kemuliaan.
Dari sinilah maka para da’i Islam dituntut untuk lebih banyak
berkorban dan berjihad, karena mereka tidak dibenarkan menempuh jalan dansarana
sekehendak hatinya. Mereka harus mengambil jalan dan sarana yang sudah
disyari’atkan, betapapun resikonya yang harus dihadapi.
Adalah keliru jika Anda beranggapan bahwa prinsip hikmah
(kebijaksanaan) dalam dakwah Islam itu disyariatkan untuk mempermudah tugas
seorang da’i atau utuk menghindari penderitaan dan kesulitan. Rahasia
disyariatkannya prinsip hikmah dalam dakwah ialah untuk mengambil jalan dan
sarana ang paling efektif agar bisa diterima akal dan pikiran manusia, artinya
apabila perjuangan dakwah menghadapi beranekaragam rintangan dan hambatan, maka
langkah yang bijaksana bagi para da’i dalam hal ini adlah melakukan persiapan
utuk berjihad dan berkorban dengan jiwa dan harta. Hikmah ialah meletakkan
sesuatu pada tempatnya.
Di sinilah perbedaan antara hikmah dan tipu daya, antara hikmah dan
menyerah. Anda tentu ingat dan mengethaui, ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
wa Sallam, merasa optimis melihat tanda-tanda kesediaan para tokoh Quraisy
untuk memahami Islam, maka dengan perasaan gembira dan perhatian sepenuhnya
beliau menjelaskan hakekat Islam kepada mereka, sehingga ketika seorang
sahabatnya yang buta Abdullah Ibnu Ummi Maktum lewat, kemudian duduk ikut
mendengarkan di samping mereka dan bertanya kepadanya, Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi wa Sallam membuang muka darinya, karena beliau tidak ingin kehilangan
kesempatan baik tersebut, di samping bahwa Ibnu Ummi Maktum akan bisa dijawab
pada lain kesempatan.
Tetapi kebijaksanaan Rasululah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ini
mendapat teguran dari Allah di dalam surat ‘Abasa, kendatipun tujuannya sangat
mulia. Karena cara tersebut mengandung sikap yang tidak dibenarkan oleh syariat
Islam, yaitu mengabaikan dan menyakiti hati Abdullah Ibnu Ummi Maktum karena
ingin menarik hati kaum musyrik.
Tegasnya, tidak seorangpun yang dibenarkan untuk mengubah, melanggar
atau meremehkan hukum-hukum dan prinsip-prinsip Islam, dengan dalih
kebijaksanaan, dalam berdakwah. Sebab, suatu kebijaksanaan tidak bisa disebut
bijaksana, jika tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan syariat dan
prinsip-prinsipnya.
Ketiga, sikap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadp
berbagai tawaran yang diajukan kaum Quraisy kepadanya tersebut mendapatkan
dukungan dari Allah. Berkenaan dengan hal ini Allah telah menurunkan
firman-Nya:
“Dan mereka berkata,”Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu,
hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai
sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah-celah
kebun yang deras airnya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami,
sebagaimana kamu katakan, atau kamu datangkan Allah dan Malaikat-malaikat
berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau
kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu
hingga kamu turunkan atas kami sebuah Kitab yang kami baca.” Katakanlah: “Maha
Suci Rabb-ku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul.” (QS
Al Isra’: 90-93)
Allah tidak mengabulkan permintaan mereka bukan karena Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak diberi mukjizat selain dari Al Quran,
sebagaimana anggapan sebagian orang. Tetapi karena Allah mengetahui bahwa
mereka tidak menuntut hal itu melainkan karena kekafiran, keangkuhan dan
penghinaan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini dapat kita
perhatikan melalui cara-cara dan bentuk-bentuk tuntutan yang mereka ajukan.
Seandainya mereka jujur dan serius ingin meyakini kebenaran Nabi Shalallahu
‘Alaihi wa Sallam, niscaya Allah akan mengabulkan permintaan mereka. Tetapi
sikap kaum Quraisy ini sesuai dengan apa yang ditegaskan oleh Allah di dalam
firman-Nya:
“Dan jika seandaiyna Kami mebukakan kepada mereka slah satu dari
(pintu-pintu) langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah
mereka berkata,”Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahwa kami adalah
orang-orang yang kena sihir.” (QS Al Hijr:14-15)
Dengan demikian, tahulah Anda bahwa hal ini tidak bertntangan
dengan pemuliaan Allah kepada Nabi-Nya melalui beraneka macam mukjizat.
No comments:
Post a Comment